Ada getar
merambat perih ketika melewati kumpulan-kumpulan manusia itu. Ada juga sesuatu
yang dicari, tapi entah apa namanya. Ada lagi juga sesuatu yang hilang, entah
juga apa namanya. Kali ini aku terhenyak seminggu sebentar untuk diam mencari segmen-momentum
apa itu kehidupan, apa itu sebenarnya membaur. Lalu aku yang kata orang pergi
berkelana selama seminggu. Menghilang jejak diatas semua esensi hidup
berasaskan sekolah, rumah, teman, keluarga, si astronot, konsumsi, dan juga Tuhan yang aku lempar jauh-jauh
seakan-akan sedang menelanjangi diri. Berbekal uang, kamera,
celana dalam, jiwa pecundang yang lengkap sudah untuk pergi meninggalkan titik kritis yang bisa
membuatku liar – seliar apalah itu namanya.
Aku menemui
banyak orang asing.
Aku pergi ke
tempat terbuka.
Aku mendongak,
banyak sekali wajah tanpa kejujuran. Banyak sekali wajah skeptis yang aku
penasaran bagaimana mereka bisa sampai kesini, sampai terik matahari dan dinginnya
malam mengambil alih.
Aku bermalam
dimana saja.
Sampai pikiran ini habis akan jua, atau mati kesepian kegirangan.
Semua itu karena si astronot who is growing on me, growing inside of me.
Aku yang sepenuhnya menyalahkanmu, si astronot yang bersedia sebagai alih-alih obat pengilang stress nyatanya membawa efek samping.
Iya, aku overdosis akan tentangmu.
Bagaimana bisa aku melepas hal yang membuatku takjub dengan hanya perilaku apa adanya, bagaimana caranya lari sedangkan destinasi terakhirku yaitu Ratu Adil yang aku sebut kamu?
Selamat sudah meng-kacungi perasaan kalaku.
Terimakasih untuk mengacaukan bala retorikaku.
Jika aku dapat menghendaki khayal menjelma kenyataan, semoga kamu mati pelan-pelan diantara ruang-ruang milikku yang kamu mahir isi sendiri dengan amonia memori lama.
Memori lama.
