Hanya pada saat seperti ini ketika kelabu mulai sunyi bersama tenggelamnya jiwamu diambang-ambang seperempat bulan yang dipertontonkan langit. Langit hanya diam, bersama jutaan cerita tanpa kata. Disaat seperti inilah manusia berpikir untuk apa dia hidup, kepada siapa dia jatuh, siapa yang ia tusuk, siapa yang menghujam riang punggung-punggung lelah, terkadang juga eksistensi Tuhan. Dan jangan tanya bila soal cinta, rasa suka, rasa kagum yang kalau sudah carut larut senyap seperti ini pasti semua orang pun bergumam keras namun diam dalam relung keputus-asaan, ataupun mengambang ria bersama memori-memori yang memecah belah jelujur mata penghasil guratan setengah oval di ruang bibir. Saat seperti ini juga aku berpikir, rasa suka itu krusial, ya benar! Bayangkan saja sebuah objek nyata berbentuk manusia, dengan gigi terpagar rapih serta perangainya yang halus membuat imaji tersepai mabuk, berpencar valid kemana-mana. Serta juga setelah berpencar, pecahan-pecahan kasar itu mendiami relung bernama jantung. Penyebab komplikasi perasaan, sampai menganggu aktivitas belajar. Tanpa sadar juga ternyata serpihan tersebut merupakan benih yang tumbuh dengan liar berpeluk duri berkuncup sari, kelopak-kelopaknya adalah simbolik perasaan yang mengebu-ngebu yang hanya bisa diam di dalam relung dan berteriak tidak ingin keluar dari situ. Mereka indah.......namun apadaya jika membuat sesak bernafas. Memikirkannya saja seketika dunia berubah menjadi lilac, gila. Jika saja perasaan bisa disortir dan menghasilkan setumpuk residu yang kebablasan, pastinya hidup tidak akan se-lacur ini.
lacur/la·cur/ a 1 malang; celaka; sial; 2 buruk laku;
lacur/la·cur/ a 1 malang; celaka; sial; 2 buruk laku;

