Tadi siang aku melihatmu di pelisir lobby dekat ruang guru. Satu-satunya yang paling mencolok dari wujud itu adalah rambutmu. Yang sesungguhnya aku paling tidak nyaman melihatnya, karena duh-terlihat nakal, gaul atau semacamnya. Mungkin kamu mulai tergerus jaman, atau itu karena latar belakangmu semata? Kontur wajahmu pun berubah, yang jelas lebih muram dari pertama kali kita bertemu. Potongan celanamu pun berubah. Sempit dari bagian tungkai lutut dan merekah kebawah bertemu tumit. Oh cutbray, kamu mau jadi reinkarnasi Elvis Presley untuk dekade ini? Yasudahlah toh itu memang menarik untuk dipakai. Akupun kaget dengan pesatnya jenjang kaki itu tumbuh. Kamu bertambah tinggi, dan sebentar lagi mencapai langit-langit. Metamorfosis fisik itu ternyata tidak terduga, aku terheran-heran sendiri. Kamu sudah menjadi pria? Walaupun belum seutuhnya. Sepertinya kamu juga sudah lebih kuat, lebih kokoh untuk berdiri tegak tanpa memakai topeng 'Aku baik-baik saja.' atau 'Jangan kasihani aku.' Atau masih sama? Aku tahu kamu sangat tidak baik, sangat kacau. Kenapa tidak cerita saja? Atau mungkin kamu merasa nyaman dengan duduk nongkrong sana-sini bersama menghisap batang-batang kesenangan kafein-nikotin yang seakan-akan masalahmu akan hilang dengan bersama asap yang membumbung rendah di pelataran lalu hilang begitu saja walau meninggalkan secuil racun di sudut alveolus, paru-paru yang bahkan kamu tahu sendiri; kamu bunuh diri pelan-pelan seperti yang kamu dulu bilang. Tapi jika semua itu membuatmu lega, aku bersyukur. Semoga saja cuma fisik itu yang berubah. Jika paham dan pendirianmu ikut bersamanya, aku tidak rela.
Ternyata destinasi kita sama, ruang hiruk pikuk guru. Aku sibuk bersama carik-cari kertas, absensi, tumpukan amplop yang masing-masing berisi dispensasi maupun surat dokter dan mempertimbangkan si pembolos-pembolos mana yang jumlah alfa harus dibagi rupa dengan izin, sakit bersama si Juru Selamat Raport, si wali kelas. Semoga kamu bukan salah satu dari mereka ya. Soalnya.. Aku jarang melihatmu disekolah. Lalu kamu kenapa sibuk dengan tes-tes remedial itu? Nilai-nilaimu menurun?
Ternyata destinasi kita sama, ruang hiruk pikuk guru. Aku sibuk bersama carik-cari kertas, absensi, tumpukan amplop yang masing-masing berisi dispensasi maupun surat dokter dan mempertimbangkan si pembolos-pembolos mana yang jumlah alfa harus dibagi rupa dengan izin, sakit bersama si Juru Selamat Raport, si wali kelas. Semoga kamu bukan salah satu dari mereka ya. Soalnya.. Aku jarang melihatmu disekolah. Lalu kamu kenapa sibuk dengan tes-tes remedial itu? Nilai-nilaimu menurun?
