Lagi-lagi kita dipersatukan kembali oleh tirai hujan. Iya, dihujani oleh awan yang sama. Bedanya kali ini, kita tidak dipisahkan oleh batas radius, cuma sedemikian inchi, memang. Kali ini pun bukan lamunan fatamorgana. Dirimu tetap bersahaja seperti biasa, bersama pundak setengah basahmu yang terpeluk oleh ratusan tetes hujan. Bagaimana rasanya dihujani oleh awan yang sama denganmu? Tentu saja menyenangkan dan entah kenapa juga gerangan petir-kilat--menyala itu menjadi soundtrack yang dibuat Tuhan oleh tangan ajaib, diumpamakan dengan piano yang memainkan dirinya sendiri. Sekali lagi, mungkin ini jilid kedua dimana tirai hujan membagi kesenangan yang ada, dibonusi oleh sosok mu. Rasa-rasanya; aku menangis bahagia, sembunyi-sembunyi. Ini episode dari tulisanku dulu, dua tahun lalu yang tepatnya Oktober, Sabtu terakhir dari bulan itu. Aku sama seperti dulu, melihatmu dari belakang saat kamu melihat dunia. Tetap seperti itu, hanya seperti itu. Aku harap kamu disitu, sedikit menoleh kebelakang karena disitulah keberadaanku dan seperti tirai hujan juga, aku jatuh untukmu☺️
eyes on me
Powered by Blogger.
buku wajah
Search
☐ talk about you
☑ blog about you

