Jika aku bilang aku sedang hancur, ya. Jika kamu bilang aku ini sedang melebur, ya. Yang sekarang cuma seonggok daging bertulang yang hidup, tapi mati. Aku ingin merangkul tapi bersama memeluk. Tapi dari kejauhan saja sudah nampak mengecewakan. Sehingga aku menghela nafas sesak setiap saat. Sampai mata ini terasa panas, mata ini menangis kering kerontang melihat apa yang dipaparkan keadaan, apa yang dipaparkan kenyataan, apa yang dipaparkan garis tangan Tuhan. Maaf, kali ini aku mulai menyalahkan semua orang, keadaan, suasana dan sekitarnya yang terikat objek masa waktu denganku. Lalu siapa yang harus aku percayai jika satu-satu dari orang-orang itu pergi, melihat pundak serta punggungnya menghilang dari kejauhan perspektif? Lalu lantas bagaimana menghadapi realita yang ada tanpa ada yang menemani? Tanpa ada yang menyeka serpihan debu tajam menggelitik yang memicu gerimis pelupuk mata, lagi?
Jika ada yang berubah dari diriku, jangan salahi aku.
Jangan tunjuk aku untuk kembali seperti dulu.
Jangan pun kamu, menyalahi keadaan sepertiku.
