Sunday, May 5, 2013

Meminta Maaf Itu Penting Ataukah Sebaliknya?

Kau tahu, aku masih merasakan sesak yang sama. Mungkin kamu menganggapku senang-senang saja diatas semua ini. Dan sebelum tanggal 8 April pun, aku masih memiliki ganjaran yang sama. Aku tak pernah terpikir akan sejauh ini, dan tidak sampai berpikir akan ada yang sakit setelah ini. Mungkin hanya segelintir orang yang tahu seberapa dalam.. Sejauh apa aku berpikir selama ini. 

Mungkin salahku juga mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak aku ketahui. Atau Tuhan mengarahkanku dan berpikir bahwa sejujurnya aku memang harus mengetahui hal-hal ini? Perbedaan kita dan kamu, sama saja seperti jurang. Tak bisa dipungkiri dan terelakkan. Mungkin karena aku sudah berpikir kita mempunyai jalan hidup masing-masing. Walaupun mencekam, aku selalu membayangkan bagaimana bila aku berada di posisimu. Mungkin terdengar berlebihan, asal kau tahu bantalku selalu basah setiap malam. Membuatku tidak bisa tidur sampai keesokan harinya gurat wajahku berbeda didepan cermin dan.. "Smile is the best mask" Tidak, aku memunafikkan diri sendiri.

Aku yang diperhatikan saja sudah merasa sakit, bagaimana kamu yang tidak? Dan aku berandai-andai sebaiknya jangan aku saja yang diposisi ini. Aku berpikir bahwa semutlaknya kamu yang berhak bahagia. Kamu yang banyak berusaha, malah aku seenaknya saja merebut posisi mu yang sebelumnya yang aku anggap aku hanya bertepuk sebelah tangan semata.

Tapi beginilah skenario Tuhan, seperti jurang kan? Tak terelakkan dan tak bisa dipungkiri. Aku sudah tahan dengan semua sindiran-sindiranmu, sindiran-sindiran teman-temanmu. Aku tahan, karena bila aku berada diposisimu pasti aku sudah berbuat hal yang sama.

Aku terus berpikir diriku itu jahat, diriku itu jahat. Aku juga egois tidak mau meminta maaf. Aku terlalu gengsi untuk meminta maaf, tapi gengsi yang selama ini pecah juga. 

Akupun merasakan walaupun aku tidak mengalami. Karena aku selalu berpikir bagaimana bila aku berada di posisimu sekarang. 

Aku menulis ini bersama rasa sakit, rasa bersalah, yang tidak benar-benar kamu ketahui. Intinya aku minta maaf, walaupun maafku tidak akan pernah cukup untukmu. 

Aku memang jahat, kamu berhak menghakimiku.
Kamu berhak:-)

-Andhita Nurul Ramdhani
< > Home

eyes on me

Powered by Blogger.

Search

☐ talk about you ☑ blog about you

Follow Me

Followers

emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.