"Kalau hujan bukan air, kau ingin apa yang turun?"
"Cinta dalam bentuk tetesan air berisi serbuk dandelion berwarna merah pucat"
"Kenapa seperti itu?"
"Bukannya menyenangkan bila cinta membasahi setiap lorong kulit kepalamu, jatuh kedahi dan meluncur berbelok ke sisi berlawanan dari kedua alis lalu menetes ketanah membersihkan semua luka yang ada? Tapi nyatanya dunia ga semanis kembang gula kan. Hehe"
"Tapi kok aku merasa demikian ya?"
"Lah gimana maksudnya?"
"Teori dihujani cinta mu ituloh"
"Disana hujan berwarna merah pucat?"
"Ya, berwarna merah pucat di relung rusuk khayalanku. Lama-lama kamu seperti Agen Neptunus ya, hahaha"
"Bukannya lama-lama loh, memang dari dulu seperti ini"
"Hihihi, kapan-kapan kita ketemu lagi ya di bukit bintang"
"Kenapa kapan-kapan?"
"Kapan-kapan kalau aku sembuh"
Faldi.
