Kukira hanya lamunan fatamorgana dari hujan, ternyata memang kamu. Kusipitkan mata sedikit, kulepas kacamataku. Hebat, ternyata hanya kamu yang terlihat
sangat jelas walupun aku tidak menggunakan kacamata. Ah, kau bersahaja seperti biasa hanya saja ponimu basah terpeluk oleh ribuan tetes hujan. Berada dibawah langit yang sama denganmu, dan kita beradius dua meter. Ya, sangat menyenangkan kita ditetesi satu awan yang sama. Ketika kau tersenyum, lebat berganti gerimis. Ajaib, skenario Tuhan begitu ajaib. Entah kenapa juga, saat itu gerungan petir begitu indah bagaikan Mozart menekan tuts pianonya dengan cara yang bertubi-tubi. Aaaaah, saat itu juga aku sangat manja ingin dilirik olehmu. Yaampun demi apapun, tirai hujan mempertemukan kita.
