Aku ingat dahulu ketika pertama bertemu dia kontras dengan jambangnya, tubuhnya yang kurus dan kaos simetris garis yang menandakan simplikasi atas semua masalah yang pernah ia hadapi. Wajahnya begitu tegas dengan matanya yang sayu mengingatkanku kepada semua laki-laki yang bermain dengan perempuan pasti bertampang seperti itu. Dia tidak merokok karena benci mengkhianati paru-parunya, tapi asap dariku katanya berupa pengecualian. Dikedai kopi kecil di daerah Dago Atas lengkap dengan dinginnya angin yang melewati ventilasi besar kami mengeluhkan betapa dinginnya hari itu dan menambah pesanan yang kopi kami habiskan tadi menjadi dua gelas coklat panas. Pria itu mengambil sebuah buku, membaca cover belakangnya dan tanpa aku sadar sudah setengah jam dia bercumbu dengan lisan dan akhirnya berbicara padaku.
Obrolan mengalir begitu, sedari ia mengorek masa lalunya dan akupun. Dua gelas minuman yang kami habis sudah, dia mengajakku berkeliling dan seperti ketika dia jemput aku ketika hendak pergi, dia membukakan pintu mobil dan mempersilahkan aku duduk dimana sesudahnya baru ia masuk.
Waktu itu The Smiths ia putar melalui kaset pita yang aku heran di mobil keluaran tahun dua ribuan masih terpasang perangkat yang tidak efisien semacam itu. Lagi-lagi dia tidak berbicara, lalu kutanya. Dia bilang dia benci pesonaku, terpaut 7 tahun usia kami yang membuatnya bingung.
Aku baru memasuki bangku kuliah setelah patah hati
terbesarku terjadi. Lalu dia datang begitu saja karena selama ini kami
mengobrol lewat pesan digital, tiba-tiba memasuki kehidupanku dengan membawaku
ke kedai kopi itu lagi, ruang pribadinya lagi, cerita masa lalunya lagi. Aku
ingat bau ruangannya, disudut meja banyak hadiahdii hari wisuda yang diberikan
oleh terdekatnya. Banyak bunga yang mulai mengering, baru saja ia memulai fase
hidup yang baru dan baru aku sadar ia lewati itu dengan bersamaan datangnya
aku.
Itu cerita 2 tahun yang lalu. Entah apa yang membuat kami berakhir, ketika aku bilang kita bukan satu dari sama lain lalu dia menyetujui dan menyudahi. Setelah itu kami mungkin hidup bahagia sendiri-sendiri. Akhir-akhir ini dia menyapaku lagi dengan bilang dia menginginkanku. Lewat pesan digital yang tidak sekali dua kali, sampai kekasihku yang kini tahu terbakar ubun-ubunnya tiap kali aku melapor apa yang pria itu sampaikan kepadaku.
Cerita kali ini berbeda dengan dua tahun lalu, aku tidak
sengaja bertemu dengan dia disebuah pasar perskenaan musik dengan perangai dia
yang tidak berubah dari dua tahun yang lalu, yang berubah hanya rambutnya saja
melewati alis. Jambangnya tetap sama.
Dia bukan lagi melirik, tapi lurus melihatku dari kejauhan menunjukkan
apa yang ia sampaikan lewat pesan-pesan digital kemarin adalah serius. Terlepas
dia tidak peduli aku bersama pacarku pada saat itu.
Aku sangat takut.
Matanya tidak lepas dariku meskipun radius ratusan
jengkal kami jauh.
Karena apa yang ia inginkan berbeda dari dua tahun yang
lalu.
Lagi-lagi aku sangat takut.
Dia menginginkan aku untuk hal yang lain.
Memang benar ia menginginkan itu.
Selangkanganku.
Sampai sekarang aku masih takut.

